PASAR & KOMODITAS
🏅 Emas Antam: Rp 1.415.000/gr
🔄 Buyback Emas: Rp 1.260.000/gr
🛢️ Minyak Brent (Oil): $79.65/bbl (+0.45%)
💵 USD / IDR: Rp 15.680 (-0.12%)
📈 IHSG: 7.420,50 (+0.38%)
🪙 Perak / Silver: Rp 16.850/gr
🏅 Emas Antam: Rp 1.415.000/gr
🔄 Buyback Emas: Rp 1.260.000/gr
🛢️ Minyak Brent (Oil): $79.65/bbl (+0.45%)
💵 USD / IDR: Rp 15.680 (-0.12%)
📈 IHSG: 7.420,50 (+0.38%)
🪙 Perak / Silver: Rp 16.850/gr
EKONOMI

Rupiah Menguat 0,75% Sepekan, Ini Proyeksi Pekan Depan

Avatar
515
×

Rupiah Menguat 0,75% Sepekan, Ini Proyeksi Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah yang menguat 0,75 persen dalam sepekan ke posisi Rp 17.694 per dolar AS, Agustus 2026
Nilai tukar rupiah menguat 0,75% dalam sepekan, diperkirakan bergerak antara Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS pada pekan depan.

TELISIKMEDIA.COM – Nilai tukar rupiah tercatat menguat sebesar 0,75% dalam sepekan terakhir. Penguatan ini didorong oleh kebijakan pembelian kembali surat utang pemerintah Amerika Serikat yang menekan imbal hasil obligasi AS, sehingga memberikan ruang bagi mata uang rupiah untuk menguat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026), kurs rupiah di pasar spot tercatat di posisi Rp 17.694 per dolar AS, menguat 0,3% secara harian. Sepanjang pekan, rupiah menguat 0,75% dari posisi akhir pekan sebelumnya di Rp 17.827 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah versi Jisdor juga tercatat menguat 0,73% dalam sepekan ke angka Rp 17.705 per dolar AS.

Baca Juga : Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 15.000, Cek Daftar Lengkapnya

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyatakan, pendorong utama penguatan rupiah berasal dari kebijakan Departemen Keuangan AS yang melipatgandakan program pembelian kembali surat utang berjangka panjang menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi. Langkah ini menurunkan imbal hasil obligasi AS jangka panjang yang selama ini menjadi daya tarik utama investor asing menarik dana dari pasar keuangan berkembang termasuk Indonesia.

Dari sisi dalam negeri, defisit neraca transaksi berjalan kuartal II-2026 tercatat melebar menjadi US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto. Pelebaran defisit akibat tingginya impor minyak dan barang modal ini menjadi salah satu faktor penahan laju penguatan rupiah. Selain itu, potensi tekanan inflasi pangan akibat cuaca juga perlu diwaspadai.

Memperhatikan berbagai sentimen yang ada, Ibrahim memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah pada pekan depan akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Sumber: Bloomberg, Bank Indonesia, ANTARA News
📲
Bagikan atau Ikuti Berita Telisik
Dapatkan pembaruan langsung via WA